Sebuah Rakaat Panjang dari Norwegia

Jumat, 10 Jul 2026 1 jam yang lalu 62 kali dibaca

Malam itu Brasil pulang lebih cepat. Dua gol Erling Haaland di menit ke-79 dan ke-90 memulangkan tim samba dari babak 16 besar Piala Dunia 2026. Dunia sepak bola terhenyak. Saya juga. Sejak awal turnamen, saya hanya ingin menikmati Piala Dunia, melihat Messi, Ronaldo, Salah, dan Haaland. Namun tiba-tiba saya membaca beberapa hal tentang Norwegia dan Haaland setelah mereka mengalahkan Brasil dan menampilkan koreografi rowing yang viral itu. Dukungan ini pasti terdengar latah, meskipun saya punya alasan yang lebih dari sekadar bola: alasan yang justru banyak berbicara tentang Indonesia.

Norwegia hanya berpenduduk sekitar 5,5 juta jiwa, lebih sedikit dari gabungan warga dua kota administrasi di Jakarta. Negara mungil ini memiliki dana abadi terbesar di dunia, Government Pension Fund Global, yang oleh rakyatnya cukup disebut Oljefondet atau Dana Minyak. Nilainya kini melampaui 1,6 triliun dollar AS, atau sekitar Rp25.000 triliun, karena sebuah kunci sederhana yang berat dijalankan: rezeki alam tidak dihabiskan hari ini. Seluruh surplus minyak diinvestasikan di luar negeri agar ekonomi domestik tidak kepanasan. Politisi Norwegia dilarang menyentuh uang pokoknya melalui aturan fiskal handlingsregelen yang membatasi pemakaian maksimal sekitar 3 persen imbal hasilnya setiap tahun. Minyak mereka suatu saat akan habis, namun kesejahteraannya diwariskan lintas generasi.

Dari Norwegia kita belajar bahwa kekayaan alam adalah ujian, bukan hadiah. Hal yang menentukan adalah kedisiplinan pengelola dan kejernihan sebuah bangsa memisahkan siapa seharusnya mengelola apa. Pengelolaan dana tersebut diserahkan kepada lembaga profesional di bawah bank sentral, diawasi parlemen, serta dijaga oleh sebuah Dewan Etika. Perusahaan yang melanggar akan didivestasi tanpa ampun karena setiap pihak diberi peran yang jelas: politisi membuat aturan, profesional mengelola, dan dewan etika menjaga batas tanpa ada yang merangkap jabatan.

Di titik inilah, dengan segala kerendahan hati, saya teringat rumah saya sendiri. Sebagai orang yang lahir dan dibesarkan dalam tradisi Nahdlatul Ulama, saya prihatin melihat NU melangkah masuk ke pengelolaan tambang. Ini bukan soal benci industri atau keinginan melihat NU miskin, melainkan soal menghadirkan NU dalam nafas sejatinya: sebagai penjaga peradaban dalam bentangan sejarah yang panjang atau longue durée.

Tambang dengan segala watak ekstraktifnya bekerja dengan logika jangka pendek dan transaksional yang mementingkan keuntungan cepat untuk menyumbang devisa atau menaikkan neraca ekonomi. Peradaban dalam tradisi NU adalah sebuah rakaat panjang. Dalam salat, rakaat bukanlah gerakan buru-buru karena di dalamnya terdapat rukun, tumakninah atau jeda kesabaran, serta batas yang tidak boleh dilanggar. Jika imam terburu-buru atau rukunnya dikorbankan demi cepat usai, salatnya batal; begitu pula dengan peradaban dan pengelolaan negara yang tidak bisa melompat-lompat karena tidak ada bangsa menjadi besar dengan cara instan. NU telah hidup jauh lebih lama daripada Republik Indonesia, sehingga tugas sejarahnya adalah merawat umat melalui pendidikan, kesehatan, dan pesantren. Ketika organisasi keagamaan dengan sejarah seabad ini ikut dalam pembagian konsesi tambang, ormas ini memotong rakaat panjang tersebut demi sesuatu yang lekas usai dalam hitungan dekade. Risiko konflik lahan, kerusakan lingkungan, dan godaan rentenya akan mempertaruhkan marwah yang dibangun para kiai dengan cucuran keringat dan air mata. Dana minyak Norwegia saja menolak berinvestasi pada perusak lingkungan, sehingga fakta itu semestinya menjadi cermin bagi kita semua tentang pentingnya tahu batas.

Ada pelajaran kedua dari Norwegia yang sangat relevan: kesabaran membina manusia sebagai sebuah kerja peradaban. Norwegia absen dari Piala Dunia selama 28 tahun tanpa menyalahkan siapa-siapa, tanpa membeli pemain naturalisasi, dan tanpa mencari jalan pintas. Di Norwegia, ada aturan ketat bernama Barneidrett atau hak anak dalam olahraga. Hingga usia 12 tahun, anak-anak dilarang dihitung skor pertandingannya atau dibuatkan ranking agar fokus bertumpu pada kegembiraan, proses, dan pembinaan karakter dasar. Peradaban yang sehat selalu tumbuh dari kesabaran menunggu hal terbaik keluar dari anak-anak yang tumbuh dengan wajar tanpa diperas oleh ambisi instan orang dewasa.

Filosofi Barneidrett ini terasa sangat akrab di telinga saya karena beresonansi kuat dengan tradisi pesantren di NU. Di dalam bilik-bilik pondok, seorang santri ditempa bertahun-tahun bukan untuk langsung siap menjadi politisi atau pengusaha kaya. Untuk dianggap memiliki kredensial dalam satu kitab atau satu disiplin metode seperti ilmu mantiq, seorang santri harus menghabiskan waktu bertahun-tahun dengan mengaji dari kiai ke kiai dan berpindah dari satu pesantren ke pesantren lain demi mengeja teks baris demi baris dengan sabar. Kesuksesan Norwegia di lapangan sepak bola dan kemakmuran ekonominya berakar pada hulu yang sama dengan tradisi pesantren: kesetiaan mutlak pada investasi manusia jangka panjang.

Inilah keyakinan yang setiap hari saya perjuangkan di Kementerian Koordinator Pemberdayaan Masyarakat bahwa mereka yang diremehkan hari ini; pelaku UMKM, santri, anak-anak di sekolah vokasi, warga desa yang bisa menjadi kejutan besar esok hari asalkan kita telaten membina dan membukakan jalan bagi mereka untuk tumbuh secara organik.

Ada satu nilai budaya Skandinavia yang mengunci semua kedisiplinan ini, yaitu janteloven atau larangan merasa diri lebih hebat dari orang lain. Meski memiliki megabintang seperti Haaland dan Ødegaard, kemenangan Norwegia selalu dibingkai sebagai kerja tim tanpa adanya kultus individu. Semua orang bergerak karena tahu peran dan tahu batasnya masing-masing.

Janteloven pada dasarnya adalah ajaran tentang tahu diri dan tahu batas: nilai yang sangat dekat dengan konsep tawaduk dalam tradisi pesantren. Penjaga gawang tidak ikut-ikutan maju menjadi penyerang, pelatih tidak merangkap menjadi bandar judi, dan ulama tidak semestinya merangkap makelar tambang. Setiap pihak menjadi besar justru karena mereka setia dan hormat pada batas perannya masing-masing.

Dukungan saya untuk Norwegia melampaui urusan bola karena Norwegia memberi hikmat kebijaksanaan soal cara sebuah bangsa kecil membuktikan kepada dunia bahwa disiplin mengelola rezeki alam, kesabaran menjaga kewajaran tumbuh manusia, dan kerendahan hati untuk tahu batas adalah resep kemenangan yang sesungguhnya. Kekayaan yang dikelola bijak mewariskan berkah, sedangkan yang dikelola serampangan mewariskan bencana. Norwegia telah memilih yang pertama di lapangan hijau maupun di brankas negaranya: semoga kita semua cukup rendah hati untuk belajar darinya.

Kategori:

Komentar (0)

💬 Belum ada komentar, jadi yang pertama ya!